Senin, 14 September 2009

akankah pendirian FISIP UIN Jakarta memakan korban?

akankah pendirian FISIP UIN Jakarta memakan korban terutama jurusan HI-FISIP,,,,,,,,,,? sebagian orang disisihkan demi kepentingan yang lain, janji hanya diobral, membuat keputusan hanya sepihak saja. padahal kita semua (mahasiswa) ingin memajukan Fakultas khususnya jurusan HI ini secara bersama-sama tanpa merugikan orang lain, musyawarah mufakat adalah jalan keluar satu-satunya, mohon dengarkan aspirasi kami.

kami dijanjikan oleh sebagian jajaran atas bahwa kelas ekstensi akan dilebur dengan reguler dan dihilangkan nama ekstensi, sampai2 ada jajaran atas HI-FISIP bilang bahwa "tidak akan ada lagi anak reguler atau anak ekstensi, semua itu sama dan yang ada adalah jurusan HI" dan dijanjikan dengan segala janji-janji manis. sehingga ketika pendirian FISIP untuk pertama kali, kamipun dilebur. akan tetapi tidak berlangsung lama setelah peleburan kami, terdengar kabar yang bisa jadi semacam klarifikasi dan menimbulkan ketidak berkenaan di hati kami. setelah mendengar dari "selaku orang yang bertanggung jawab di HI-FISIP UIN Jakarta" bahwa sebenarnya tidak ada kebijaksanaan untuk meleburkan kelas ekstensi dengan kelas reguler dan beliau tidak mendiklar akan hal itu, bahkan beliau tidak tahu menahu akan proses peleburan kami. amat sangat menyedihkan dan kecewa sekali ketika kami mendengarnya. disini mengindikasikan bahwa tidak ada perhitungan yang matang ketika pembentukan FISIP dan terjadi diskomunikasi dijajaran atas yang memang bertanggung jawab akan hal ini, sampai2 soal peleburan kami sebagian dosen dan bagian yang lainnya yang dirasa bertanggungjawab (mohon maaf tidak kami sebutkan) tidak tahu menahu.

baik, memang kami memaklumi apabila secara syarat dan ketentuan antara kelas ekstensi dengan kelas reguler sangat berbeda apabila terjadi peleburan. tapi apakah harus, apabila kami "disisihkan" sendirian dengan perbedaan tempat yang sangat mencolok, jam, dan ketidakjelasan status kelas kami?. ketika dibayangkan jika kami berada di gedung pascasarjana sendirian dan status yang terlihat tidak jelas, sehingga dirasa kami akan kehilangan akses dalam berkomunikasi layaknya mahasiswa HI pada umumnya seperti berorganisasi, bersosialisasi, dll. dan juga dalam segi persaingan dikelas demi perbaikan mutu kami, karena tidak adanya senior, junior, dan kelas seangkatan kami.

harapan kami adalah bahwa kami tetap berstatus reguler dan masuk jam pagi layaknya mahasiswa HI pada umumnya, dan bergabung dengan mahasiswa di kelas pagi tanpa ada dikotomi, dan seperti janji-janji jajaran atas tentang status kami di reguler. semoga tidak istilah penganak tirian disini, semua dianggap sama layaknya mahasiswa HI pada umunya, dan tidak ada saling lempar melempar tanggung jawab. karena masalah ini merupakan tanggungjawab kita bersama untuk memajukan FISIP UIN Jakarta yang baru seumur jagung ini.

selebihnya kami haturkan rasa terima kasih atas perhatiannya dan permintaan yang amat sangat apabila ada kata yang menyinggung di hati. kedua ucapan ini kami persembahkan kepada Pak Nazzarudin (kajur HI), Pak badrus, Pak kiky, Pak armein, seluruh dosen, staff HI-FISIP, dan teman2 mahasiswa. kritik dan saran atau catatan ini bukan atas dasar ketidaksukaan kami atas kebijakan yang akan diputuskan, akan tetapi ini kami layangkan atas dasar kecintaan dan perhatian kami terhadap fakultas kita yang tercinta ini dan demi peningkatan kualitas fakultas kita bersama.

kalau ada ucapan yang salah mohon dikoreksi,
HIDUP FISIP UIN JAKARTA!!!!!!

Jumat, 11 September 2009

UIN Jakarta Beranakan FISIP

Patut dibanggakan sekali UIN jakarta, sedikit demi sedikit mulai merenovasi sendi-sendi khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang akademis, yaitu dengan terbentuknya FISIP. langkah ini secara tidak langsung mulai menampakkan wajah bangsa islam indonesia yang tadinya dipandang ortodoks, karena wacana yang berlaku dulu dan sekarang, bahwa ajaran spiritual islam sesungguhnya tidak bisa disandingkan dengan hal-hal yang berbau politik yang memang cenderung tidak etis dan licik. dan kini wajah islam indonesia mulai akan coba dirubah paradigma tentang hal itu.

Dan harapan kedepan dengan lahirnya FISIP UIN Jakarta akan membawa angin segar terhadap wacana yang berkembang sekarang tentang dikotomi ilmu pengetahuan dalam islam yang sedang mewabah pada pemikiran generasi muda islam sekarang. sehingga akan terbuka kembali pemikiran kita tentang integritas ilmu agama dengan ilmu umum. sampai penulis sendiri pun bermimpi bahwa akan terjadi kembali zaman yang terang benderang layaknya islam di spanyol dan di baghdad. diharapkan juga akan bermunculan generasi muda islam semacam ibnu sina, ibnu rusydi, ibnu batutah di UIN jakarta.

Sesungguhnya FISIP UIN sangat berbeda dengan FISIP di universitas lain pada umumnya yang hanya berkutat pada hal politik tanpa dibarengi dengan etika islam. FISIP UIN Jakarta mulai mencoba mengkolaborasikan antara asas keislaman dengan politik yang diharapkan akan terbentuk politik yang bersih dan beretika sesuai asas islam. tidak seperti sekarang, politik yang hanya mementingkan pribadi dan golongan yang terkesan menghalalkan berbagai cara tanpa memperdulikan masyarakat dan lingkungan.

Itu tadi sedikit prolog dari penulis sekaligus mahasiswa UIN jakarta jurusan HI, akan keharuan yang sangat mendalam karena saking bangganya dengan terobosan Pak Komaruddin hidayat, selaku rektor UIN jakarta, yang telah mendirikan FISIP untuk pertama kalinya di UIN, diresmikan pada tanggal 27 juni dan juga para civitas akademika, dosen, mahasiswa.

Perjuangan mahasiswa UIN Jakarta dalam aksi demo tentang keinginan dibentuknya FISIP kemarin,selasa (23/12) ternyata tidak sia-sia dan membuahkan hasil. dan ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa yang bersangkutan. dan sebelumnya, saya selaku penulis dan ingin menjadi perpanjangan tangan dari teman-teman mahasiswa FISIP, ingin mengucapkan rasa terima kasih yang bermakna ini kepada jajaran tertinggi civitas akdemis UIN jakarta atas respon dari aspirasi kami.

Tuntutan kami sendiri, sebelumnya memang didasari atas ketidakcocokkan kami selaku mahasiswa atas jurusan yang dirasa tidak tepat secara administrasi, keilmuwan, dan pemikiran sahabat mahasiswa yang bersangkutan terhadap fakultasnya masing-masing. jika dilihat dari segi keilmuwannya memang salah "wadah". sebut saja HI di FEIS, PPI dan sosiologi agama di Ussuluddin dan filsafat.

Penulis sendiri yang semula masih masuk HI-FEIS merasakan dan terpengaruh sekali secara keilmuwan, ketika masih berstatus "anak ekonomi(FEIS)" kecenderungan keilmuwan adalah ke ekonomi internasionalnya dan ketika mencari bahan pemikiran politik dan militer di FEIS dirasa masih susah, sehingga secara keilmuwan pemikiran mahasiswa tentang pandangan ke-HI-an tidak bisa kompleks. itu tandanya memang terjadi ketidaksingkronan ketika HI itu masih berstatusnya FEIS bukan FISIP. dan juga sangat mungkin dialami teman-teman PPI dan SA yang sebelumnya ada di Ussuludin dan Filsafat.

Pendirian FISIP ini sebelumnya memang mempunyai banyak kendala, seperti yang telah diungkapkan pak Komarruddin Hidayat, bahwa untuk membuka suatu fakultas, tidak seperti membalikkan tangan. Banyak hal yang harus dipersiapkan dan melalui proses. Membuka fakultas baru, harus mendapatkan persetujuan Senat Universitas dan disahkan Depag, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara.

Hal yang terpenting sekarang ketika FISIP sudah berdiri dan berjalan seperti sekarang ini adalah. dalam segi infrastruktur dan fasilitas harus segera di lengkapi karena hal itu merupakan akses, senjata, dan keharusan bagi berjalannya sebuah fakultas untuk mencapai hasil maksimum dalam kualitas dan kuatitas FISIP UIN jakarta. jika tidak segera terealisasikan maka ditakutkan akan tertinggal dengan FISIP-FISIP yang lain atau mungkin FISIP UIN hanya sekedar nama.

Saya pribadi bisa berharap atas pendirian FISIP ini semoga diberikan barokah kepada Allah YME, dan fasilitas dan infrastruktur seperti gedung perkuliahan, perpus dll semoga cepat dilegkapi. dan semoga diberikan kekuatan kepada Pak Bachtiar Effendy, selaku dekan FISIP UIN, dan juga para mahasiswa semoga semakin peduli akan tanggung jawab bangsa, negara dan agama yang sedang mengalami kegoyahan ini.

Kamis, 10 September 2009

Tiga Tradisi Teori Hubungan Internasional

Teori Internasional memiliki tiga tradisi, yaitu Rasionalis, Revolusionis, dan Realis. Ketiga tradisi ini dalam banyak hal berhubungan erat dengan pokok bahasan yang terdapat dalam hubungan internasional, seperti anarki internasional, diplomasi dan perdagangan internasional, serta konsep dari masyarakat negara atau keluarga bangsa.


Rasionalis menitikberatkan permasalahan pada pergaulan antarbangsa dalam hubungan internasional. Revolusionis menitikberatkan pada persoalan mendasar yang melingkupi hubungan masyarakat internasional. Sementara, Realis memfokuskan pembahasan pada hal-hal mendasar yang menyebabkan timbulnya anarki dalam sistem internasional.


Rasionalis

Rasionalisme adalah teori yang menyatakan bahwa alasan merupakan sumber pengetahuan yang utama. Kedudukannya lebih tinggi dari persepsi yang ditimbulkan oleh panca indera. Rasionalisme lahir sebagai jawaban dari pertanyaan mendasar: “bagaimana kita memperoleh pengetahuan?” Menurut Rasionalis, pengetahuan dapat diperoleh tanpa observasi. Pendapat ini kemudian ditentang oleh paham empiris yang menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui observasi dan pengalaman indera.


Rasionalis memegang tradisi hukum alam yang terbagi atas Positivis, Naturalis, dan Grotian. Positivis menyatakan bahwa satu-satunya hukum bangsa-bangsa ditemukan pada kebiasaan dan adat yang berlaku di masyarakat. Naturalis menegaskan sebaliknya, bahwa adat dan kebiasaan tidak menunjukkan adanya hukum yang sesungguhnya. Di sisi lain, Grotian menggabungkan keduanya. Pendapat yang dikemukakan Naturalis dan Positivis, menurut Grotian, merupakan esensi dari hukum bangsa-bangsa.


Revolusionis

Revolusionis mengidentifikasikan diri mereka sebagai seorang yang percaya pada nilai-nilai moralitas dalam masyarakat internasional. Setidaknya, terdapat tiga kelompok terkemuka dalam Revolusionis Internasional, yakni Revolusionis Religius, Revolusionis Prancis, dan Revolusionis Totaliter. Revolusionis Religius muncul pada abad ke-16 dan ke-17. Sementara, Revolusionis Prancis lahir pada abad ke-18. Sedangkan Revolusionis Totaliter menampakkan dirinya pada abad ke-20.


Realis

Poin utama dalam memahami realisme adalah paham ini menilai hubungan antarnegara berdasarkan sistem internasional yang bersifat anarki. Sistem yang anarkli tersebut pada gilirannya melahirkan perlombaan dalam peningkatan kekuatan bersenjata demi mencapai kekuasaan politik di dunia. Sehingga, perang pun menjadi suatu yang niscaya terjadi dalam hubungan internasional.


Menurut realis, konflik adalah bagian tak terpisahkan dari hubungan antarnegara. Hubungan antarnegara, baik bilateral maupun multilatreral, amat rentan terhadap konflik. Setiap negara pasti mengutamakan kepentingan nasionalnya dalam menjalin hubungan dengan negara lain. Karena masing-masing mengutamakan kepentingan nasionalnya, maka tidak jarang terjadi benturan kepentingan antarnegara. Disinilah awal mula timbulnya konflik antarnegara.


Dalam menyorot persoalan dunia, Realis melihatnya berdasarkan situasi aktual yang benar-benar nyata terjadi. Realis tidak menilainya dalam kerangka ideal, atau apa yang seharusnya terjadi. Karenanya, tradisi realis lebih mengutamakan metode induktif daripada hubungan sebab akibat.***

Kolom Kiri

Demokrasi: Sebuah Malapetaka?
Rumah Kiri | Media Alternatif Kaum Progresif - Sunday, 28 September 2008
Peran Penting Individu dalam Sejarah
Rumah Kiri | Media Alternatif Kaum Progresif - Sunday, 28 September 2008
Dua Abad Islam Liberal
Rumah Kiri | Media Alternatif Kaum Progresif - Sunday, 28 September 2008

Usahanya mudah, bonusnya wah,,,,bisa dapat pulsa gratis kenpa harus beli,,,,,,hanya dengan 200ribu

Usahanya mudah, bonusnya wah,,,,bisa dapat pulsa gratis kenpa harus beli,,,,,,hanya dengan 200ribu
Duta Bussines School