Kamis, 10 September 2009

Tiga Tradisi Teori Hubungan Internasional

Teori Internasional memiliki tiga tradisi, yaitu Rasionalis, Revolusionis, dan Realis. Ketiga tradisi ini dalam banyak hal berhubungan erat dengan pokok bahasan yang terdapat dalam hubungan internasional, seperti anarki internasional, diplomasi dan perdagangan internasional, serta konsep dari masyarakat negara atau keluarga bangsa.


Rasionalis menitikberatkan permasalahan pada pergaulan antarbangsa dalam hubungan internasional. Revolusionis menitikberatkan pada persoalan mendasar yang melingkupi hubungan masyarakat internasional. Sementara, Realis memfokuskan pembahasan pada hal-hal mendasar yang menyebabkan timbulnya anarki dalam sistem internasional.


Rasionalis

Rasionalisme adalah teori yang menyatakan bahwa alasan merupakan sumber pengetahuan yang utama. Kedudukannya lebih tinggi dari persepsi yang ditimbulkan oleh panca indera. Rasionalisme lahir sebagai jawaban dari pertanyaan mendasar: “bagaimana kita memperoleh pengetahuan?” Menurut Rasionalis, pengetahuan dapat diperoleh tanpa observasi. Pendapat ini kemudian ditentang oleh paham empiris yang menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui observasi dan pengalaman indera.


Rasionalis memegang tradisi hukum alam yang terbagi atas Positivis, Naturalis, dan Grotian. Positivis menyatakan bahwa satu-satunya hukum bangsa-bangsa ditemukan pada kebiasaan dan adat yang berlaku di masyarakat. Naturalis menegaskan sebaliknya, bahwa adat dan kebiasaan tidak menunjukkan adanya hukum yang sesungguhnya. Di sisi lain, Grotian menggabungkan keduanya. Pendapat yang dikemukakan Naturalis dan Positivis, menurut Grotian, merupakan esensi dari hukum bangsa-bangsa.


Revolusionis

Revolusionis mengidentifikasikan diri mereka sebagai seorang yang percaya pada nilai-nilai moralitas dalam masyarakat internasional. Setidaknya, terdapat tiga kelompok terkemuka dalam Revolusionis Internasional, yakni Revolusionis Religius, Revolusionis Prancis, dan Revolusionis Totaliter. Revolusionis Religius muncul pada abad ke-16 dan ke-17. Sementara, Revolusionis Prancis lahir pada abad ke-18. Sedangkan Revolusionis Totaliter menampakkan dirinya pada abad ke-20.


Realis

Poin utama dalam memahami realisme adalah paham ini menilai hubungan antarnegara berdasarkan sistem internasional yang bersifat anarki. Sistem yang anarkli tersebut pada gilirannya melahirkan perlombaan dalam peningkatan kekuatan bersenjata demi mencapai kekuasaan politik di dunia. Sehingga, perang pun menjadi suatu yang niscaya terjadi dalam hubungan internasional.


Menurut realis, konflik adalah bagian tak terpisahkan dari hubungan antarnegara. Hubungan antarnegara, baik bilateral maupun multilatreral, amat rentan terhadap konflik. Setiap negara pasti mengutamakan kepentingan nasionalnya dalam menjalin hubungan dengan negara lain. Karena masing-masing mengutamakan kepentingan nasionalnya, maka tidak jarang terjadi benturan kepentingan antarnegara. Disinilah awal mula timbulnya konflik antarnegara.


Dalam menyorot persoalan dunia, Realis melihatnya berdasarkan situasi aktual yang benar-benar nyata terjadi. Realis tidak menilainya dalam kerangka ideal, atau apa yang seharusnya terjadi. Karenanya, tradisi realis lebih mengutamakan metode induktif daripada hubungan sebab akibat.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kolom Kiri

Demokrasi: Sebuah Malapetaka?
Rumah Kiri | Media Alternatif Kaum Progresif - Sunday, 28 September 2008
Peran Penting Individu dalam Sejarah
Rumah Kiri | Media Alternatif Kaum Progresif - Sunday, 28 September 2008
Dua Abad Islam Liberal
Rumah Kiri | Media Alternatif Kaum Progresif - Sunday, 28 September 2008

Usahanya mudah, bonusnya wah,,,,bisa dapat pulsa gratis kenpa harus beli,,,,,,hanya dengan 200ribu

Usahanya mudah, bonusnya wah,,,,bisa dapat pulsa gratis kenpa harus beli,,,,,,hanya dengan 200ribu
Duta Bussines School